Sabtu, 20 September 2008

SAPROLEGNIA

Oleh Ganda Pribadi

Laporan ini memberikan informasi utama tentang S. declina Humprey-S. parasitica Coker complex (Willoughby, 1985), jamur phatogen utama dari salmonids (Beakes dkk, 1994; Pickering dan Willoughby, 1982).

Selama membaca, kutipan-kutipan sudah dibatasi dalam laporan ini. Banyak penulis dibawah ”referensi” memberikan diskripsi yang sama dan hal-hal yang penting tentang saprolegnia. Oleh karena itu, untuk menambah pengetahuan, catatan (dan lainnya) digunakan untuk menginformasikan kepada para pembaca tentang hal-hal spesifik yang juga diberikan oleh beberapa penulis tambahan.

APA ITU SAPROLEGNIA?

Saprolegnia (Dibaca: “Sap-ro-leg-niah”) berada dalam ekosistem air tawar dan merupakan jenis utama jamur air yang berhubungan dengan infeksi jamur terhadap ikan dan telur yang berada dalam air tawar. Hampir semua ikan air tawar dibatasi paling sedikit satu jenis jamur selama kehidupannya (Neish, 1991 ; Noga, 1996; dan lainnya), khususnya dari tingkatan telur sampai smoltifikasi (Bruno dan Wood, 1999; Pickering, 1994). Infeksi ikan oleh saprolegnia disebut “saprolegniasis” (Beakes dkk., 1994; Roberts, 1989, dan lainnya).

Pada ikan, saprolegnia menyerang jaringan-jaringan epidermis, pada umumnya bermula dari kepala atau sirip (Neish, 1977; Willoughby, 1994; dan lainnya) dan dapat menyebar ke seluruh permukaan tubuh. Yang nampak seperti putih dan abu-abu potongan kecil dari filamentus mycelium (Bruno dan wood, 1999; Beakes dkk, 1994; dan lainnya), saprolegnia digolongkan, kapas kelihatan seperti radiasi dalam sirkulasi, bentuk bertambah atau pola melingkar. Pickering dan Willoughby (1982) mengusulkan bahwa ada perbedaan dalam pola infeksi antara tempat penetasan dan ikan liar. Gambar dibawah (Bruno dan Poppe, 1996) menunjukkan ikan yang terinfeksi oleh saprolegnia:

Saprolegnia juga menginfeksi telur yang hampir mati dengan adhesi dan penetrasi terhadap membran telur (Willoughby, 1994), dan dapat menyebarkan dari telur yang mati ke telur yang hidup (Bruno dan Wood, 1999). Gambar dibawah (Bruno dan Poppe, 1996) menunjukkan telur yang terinfeksi oleh saprolegnia:

Lingkar Kehidupan Saprolegnia

Bruno dan Wood (1999) memberikan klasifikasi taksonomi saprolegnia:

Kingdom: Protoctista

Division: Oomycota

Phylum: Heterokonta

Class: Oomycotea

Order: Saprolegniales

Family: Saprolegniaceae

Genus: Saprolegnia

Spesies: declina Humprey-parasitica Coker compeks.


Saprolegnia mempunyai lingkar kehidupan yang kompleks, yang meliputi kedua reproduksi seksual dan aseksual. Reproduksi seksual melibatkan produksi dari antheridium dan oogonium gametangia, yang disatukan untuk fertilisasi (Pickering dan Willoughby, 1982; Seymour, 1970; dan lainnya).

Spora aseksual dari saprolegnia melepaskan motile, zoospora utama (Bruno dan Wood; Willoughby, 1994). Zoospora utama hanya aktif dalam beberapa menit sebelum mereka encyst, berkecambah dan melepaskan zoospora kedua (Seymour, 1970; Willoughby, 1994; dan lainnya). Zoospora kedua lebih motile dalam periode waktu yang panjang dari pada zoospora utama (Willoughby, 1994) dan dianggap sebagai bentuk pelepasan utama dari saprolegnia (Beakes dkk., 1994; Pickering dan Willoughby, 1982; dan lainnya). Pengulangan lingkar dari encystment dan pelepasan, disebut “polyplanetism” (Beakes, 1982), membiarkan zoospora kedua untuk membuat beberapa usaha menempatkan substrat yang cocok (Beakes, 1982; Bruno dan wood 1999). Zoospora kedua menganggap infeksi spora dari saprolegnia (Bruno dan Wood, 1999; Hatai dan Hoshiai, 1994).

Lingkar kehidupan saprolegnia ditunjukkan dalam diagram (Neish dan Hughes, 1980) dibawah:

Encystment (proses pengkistaan) berikutnya, zoospora kedua melepaskan rambutnya untuk penyerangan (Beakes, 1982; Willoughby, 1994). Hal ini sudah jelaskan bahwa rambut tersebut juga digunakan untuk pengapungan (Hatai dan Hoshiai, 1994; Pickering dan Willoughby, 1982; dan lainnya), untuk mengurangi rata-rata sedimentasi (Beakes dkk., 1994), dan untuk pengenalan rangsangan sekumpulan fungal (Beakes, 1982). Lebih dari spesies pathogenic dari saprolegnia, S. parasitica (Beakes dkk., 1994; Hatai dan Hoshiai, 1994; dan lainnya), mempunyai rambut bengkok yang panjang (Beakes, 1982; Pickering dan Willoughby, 1982; dan lainnya). Perbedaan spesies dari saprolegnia mampu untuk berkecambah dibawah kondisi lingkungan dan tingkat gizi yang berbeda (Bruno dan Wood, 1999; Willoughby, 1985). Beberapa saprolegnia yang terisolasi mampu untuk tumbuh didalam air sendiri (Willoughby, 1986) dan produksi sampah dari tempat penetasan (Willoughby dan Roberts, 1992). S. parasitica dapat bertunas dan tumbuh dalam pengurangan nutrisi seperti lendir ikan (Murphy, 1981; Pickering dan Willoughby, 1982). Willoughby (1985) mengembangkan sistem “kecepatan permulaan penyaringan” yang digunakan untuk merendahkan gizi untuk menegaskan akan adanya S. parasitica oleh kista-kista yang berambut panjang, kadang-kadang disebut “sangkutan perahu” (Beakes, 1982). untuk mengidentifikasi perbedaan spesies dari saprolegnia sangatlah sulit (Hughes, 1994) dan hanya dapat dilakukan dengan analisa taksonomi dari tingkatan seksual (Willoughby, 1985; dan lainnya) dikombinasikan dengan sifat morfologi (Pickering, 1994; Seymour, 1970; dan lainnya) dari organisme. Luka pada ikan yang terisolasi biasanya tidak menghasilkan tingkatan seksual lainnya dan tidak bisa dikenal pada spesies (Hughes, 1994), dan oleh karena itu pengelompokkan pada klasifikasi generic ”saprolegnia spp”. (Beakes dkk., 1994; Pickering dan Willoughby, 1982). Cap jari DNA menjadi teknik yang penting untuk mengenal saprolegnia yang terisolasi (Whisler, 1996).

Bagaimana Saprolegnia menyerang Ikan

Sebagai kelompok dari kelas Oomycete, genus saprolegnia dianggap sebagai kesempatan fakultatif parasit (Neish, 1977), pada saprotrophic dan neotrophic (Bruno dan Wood, 1999). Spora jamur mungkin disebarkan oleh tempat penetasan ikan, ikan liar telur persediaan air dan peralatan (Bruno dan Wood, 1999; dan lainnya). Hal ini sudah diusulkan bahwa beberapa bakteri mungkin menolak (Beakes dkk., 1994) atau melawan pada saprolegnia (Peterson dkk., 1994). Saprolegnia mempunyai pengaruh yang kuat pada salmonid, khususnya pada kultur air (Beakes dkk., 1994; Hatai dan Hoshiai, 1994; dan lainnya). Bagaimanapun, hal tersebut juga dapat menginfeksi teleost lainnya dengan baik (Bruno dan wood, 1999). Kecoak, orfe, ikan gurami, tench, belut, ikan petelur, barramundi, tilapia, ikan mullet ( Bruno dan Wood, 1999) sudah diinfeksi dengan saprolegnia. Ini juga sudah dihubungkan dengan ikan tropik, termasuk gurami, guppy, ikan todak dan platy (Roberts, 1989; Willoughby, 1994) Willoughby (1989) menjelaskan bahwa ikan mempunyai tiga tipe dalam pertahanan melawan saprolegnia. Pertama, perpindahan (perubahan) fisik dari ancaman spora dengan pembaharuan lendir. Kedua, morphogen dalam lendir menghalangi tumbuhnya mycelium tapi tidak membunuhnya. Dan ketiga, rangsangan sel dalam lendir langsung pada tumbuhnya mycelium. Oleh karena itu, lendir sebagai penghalang fisik utama (Bruno dan Wood, 1999; Pickering, 1994), dengan penambahan yang berkelanjutan, pada lapisan lendir (Pickering dan Willoughby, 1982), meskipun tidak lengkap 100 %, hilangnya spora jamur (Murphy, 1981; Willoughby dan Pickering, 1977). Bagaimanapun, ikan mempunyai sebuah jaringan epidermis lengkap yang mungkin lebih bertahan melawan saprolegnia (Hatai dan Hoshiai, 1994; Pickering, 1994). Pada umumnya anggapan pathogen kedua, saprolegnia juga dapat bertindak sebagai pathogen utama (Neish, 1977; Whisler, 1996; Willoughby dan Pickering, 1977; dan lainnya). Saprolegnia menyebabkan mati dan hilangnya jaringan integritas epithelial (Bruno dan Poppe, 1996; Neish, 1991), dalam kaitannya dengan nekrosis sel atau dermal dan kerusakan epidermis (Pickering dan Willoughby, 1982; dan lainnya), termasuk penetrasi hyphae dari permukaan membran (Bruno dan Wood, 1999; Neish, 1991). Bagaimanapun juga saprolegnia tidak kelihatan seperti jaringan yang spesifik (Neish, 1991). Pikering (1994) menyatakan bahwa luka saprolegnia tidak ditempatkan secara acak. Jika tidak diperlakukan, saprolegnia mengakibatkan kematian dengan heamodilution, kegagalan osmoregulatory (Hatai dan Hoshiai, 1994; pickering dan Willoughby, 1982; dan lainnya). Waktu kematian oleh saprolegniasis tergantung pada lokasi yang terluar dari infeksi, jenis penghancuran jaringan, rata-rata pertumbuhan jamur, dan kemampuan dari ikan itu sendiri untuk bertahan dari serangan jamur (Neish, 1991; Pickering dan Willoughby, 1982). Sementara itu tidak ada fakta bahwa penyebab infeksi saprolegnia atau penghasil toksin (Neish, 1977), bisa menjadi rangsangan inflammatory tipis terhadap ikan pada infeksi jamur (Pickering dan Willoughby, 1982). Ikan yang keras (kuat) Yang terinfeksi saprolegnia kelihatan lemah, kehilangan keseimbangan dan umumnya tidak bisa pulih (Bruno dan Poppe, 1996; Pickeringh dan Willoughby, 1982; dan lainnya).

Penyebab dari Saprolegniasis

Salmonids, tingkat physiological ikan pada umumnya ditentukan jika infeksi jamur akan berhasil (Neish, 1977; Sniezko, 1974; dan lainnya). Saprolegnia umumnya menyerang ikan yang mempunyai tekanan atau sebaliknya mempunyai kelemahan sistem kekebalan tubuh (Bruno dan wood, 1999; Pickering, 1994). Karena jamur hampir selalu berada dalam air tawar, bisa diasumsikan bahwa beberapa perubahan pada ikan terjadi yang membiarkan infeksi saprolegnia (Bruno dan Wood, 1999). Neish (1999) menyatakan bahwa immunosupression memberikan mekanisme yang menyebabkan normalnya transformasi organisme non-pathogen, termasuk saprolegnia, untuk menjadi phatogenik.

Kondiai yang membuat ikan mudah terkena saprolegniasis, tetapi tidak terbatas, berikut ini :

Kondisi saprolegniasis

Referensi

Broodstock

Meyer, 1991

Kondisi tempat penetasan penuh

Beakes dkk., 1994; Whisler, 1996; dan lainnya

Integritas epidermis

Hatai dan Hoshiai, 1994; Pickering, 1994; dan lainnya

Pemeliharaan

Bruno dan Wood, 1999; Hatai dan Hoshiai, 1994

Tingkat corticosteroid yang tinggi / metabolisme androgen

Murphy, 1981; Neish, 1977; dan lainnya

Kesalahan manusia

Meyer, 1991

Wanita dewasa

Bruno dan Woods, 1999; Pickering, 1994; dan lainnya

Pathogen dan parasit

Bruno dan Wood, 1999; Meyer, 1991

Aktivitas fisik tempat bertelur

Bruno dan Woods, 1999; Richards dan Pickering, 1978

Polusi

Sniezko, 1974

Kedewasaan seksual

Neish, 1977; Pickering dan Willoughby, 1982; dan lainnya

Strukturnya

Pottinger dan Pickering, 1992; Whisler, 1996; dan lainnya

Kualitas air

Bruno dan Wood, 1999; Pickering, 1994; dan lainnya

Perubahan temperatur air

Bruno dan Wood, 1999; Howe dkk., 1999; dan lainnya

Saprolegnia bisa hidup lama dalam temperatur yang cocok, dari 30 C sampai 330C, yang menunjukkan suhu panas (Pickering dan Willoughby, 1982). Dengan demikian, perubahan temperatur secara tiba-tiba dapat membuat ikan peka terhadap saprolegniasis (Bruno dan Wood, 1999; Willoughby, 1994), melalui penambahan tekanan psikologi. Ikan akan menderita “musim dingin yang membunuh” (Willoughby, 1994), kondisi yang terjadi selama musim dingin. Musim dingin membuat keadaan lebih dingin disbandingkan dengan cuaca normal ketika produksi zoospora dari saprolegnia menjadi besar. Cuaca dingin menyerang sistem kekebalan ikan membuat mereka peka terhadap saprolegniasis.

Pengobatan terhadap saprolegnia : Apa yang dikerjakan

Infeksi jamur sulit untuk di cegah dan diobati. Oleh karena itu, penggunaan bahan-bahan kimia yang sesuai bisa menjadi kebutuhan ketike saprolegnia di diagnosa. Bagaimanapun juga ada beberapa bahan-bahan kimia yang disetujui untuk digunakan dalam aquaculture di amerika serikat (Fitzpatrick dkk., 1995; Meyer, 1991; dan lainnya). Perunggu hijau dianggap sebagai bahan kimia yang lebih efektif untuk mengontrol saprolegnia (Bruno dan Wood, 1999; Willoughby dan Roberts, 1992; dan lainnya). Namun, karena jumlah carcinogenicas, teratogenic (Fitzpatrick dkk., 1995) dan / atau kekayaan mutagen (Bruno dan Wood, 1999), perunggu hijau dilarang di Amerika serikat dan beberapa negara lainnya (Marking dkk., 1994; dan lainnya). Formalin, solusi dari 37 % formaldehida (Van waters dan Rogers, 1988), efektif dalam pengobatan saprolegnia (Fitzpatrick dkk., 1995; Mitchell dan Collins, 1997; dan lainnya), dan hanya fungisida yang digunakan dalam aquaculture di Amerika serikat (Bruno dan Wood, 1999; Marking dkk., 1994; dan lainnya). Dengan demikian ada perhatian tentang efeknya pada kedua lingkungan dan personil yang menanganinya (Fitzpatrick dkk., 1995; dan lainnya). Hydrogen peroksid adalah bahan kimia yang dijanjikan untuk perwatan terhadap saprolegnia (Fitzpatrick dkk., 1995; Marking dkk., 1994; dan lainnya) yang memberikan dampak minim pada lingkungan (Bruno dan Wood, 1999; Mitchell dan Collins, 1997). Oleh karena itu, hal ini sangat penting bagi spesies, tingkat hidup dan temperatur air ketika pengobatan saprolegnia dengan hydrogen peroksid (Rach dkk., 1997). Sodium chlorid pada konsentrasi tinggi, air laut pada 29 gm/liter dan air asin pada 15 gm/liter, adalah mematikan bagi saprolegnia (Marking dkk., 1994; Pickering, 1994), dan efektif untuk mengontrol saprolegnia (Willoughby, 1994). Sekarang ini, strategi yang lebih efektif untuk mengontrol dan mencegah infeksi saprolegnia adalah kombinasi dari ikan yang bagus dan teknik pertanian, kombinasi dengan perawatan bahan kimia (Bruno dan Wood, 1999), khususnya selama periode 2 – 4 hari setelah ditangani (Hatai da Hoshiai, 1994). Meyer (1991) menyatakan “reduksi dari tekanan nampak menjadi satu-satunya faktor terbesar untuk membantu ikan terlindung dari saprolegnuiasis. Penyakit adalah peyebeb utama terbesar dari hilangnya ekonomi pada aquaculture (Meyer, 1991), dan infeksi jamur adalah yang kedua pada penyakit bakteri dalam pentingnya ekonomi. Infeksi jamur pada umumnya dibatasi pada kronis, tetap hilang (Bruno dan Wood, 1999; Pickering dan Willoughby, 1982). Hatai dan Hoshiai ( 1994) menandainya pada daerah administrasi miyagi, jepang, angka kematian tahunan rata-rata 50 % pada coho salmon (Oncorhynchus kisutch Walbaum) dalam kaitannya dengan saprolegnia parasitica Coker. Lima belas persen per tahun hilang juga sudah dilaporkan pada pembudidayaan anak belut di jepang (Bruno dan Wood, 1999). Dan di bagian tenggara Amerika serikat, kerugian terjadi pada pembudidayaan catfish dalam kaitannya dengan kondisi yang disebut “musim dingin pembunuh”. Beberapa petani catfish sudah melaporkan kehilangan lebih dari 50 %, dengan kerugian 40juta dolar (Bruno dan Wood, 1999).

REFERENSI

Beakes, G.W., Wood, S.E., dan Burr, A.W. 1994. Features which characterize Saprolegnia isolates from salmonid fish lesions – A review. In Salmon Saprolegniasis. Edited by G. J. Mueller. U.S. Department of Energy, Bonneville Power Administration, Portland, Oregon. pp. 33-66.

Beakes, G. 1982. A comparative account of cyst coat ontogeny in saprophytic and fish-lesion (pathogenic) isolates of the Saprolegnia declina-parasitica complex. Can. J. Bot. 61: 603-625.

Bruno, D.W., and Poppe, T.T. 1996. A Color Atlas of Salmonid Diseases. Academic Press, London, England. 189 p.

Bruno, D.W., and Wood, B.P. 1994. Saprolegnia and other Oomycetes. In Fish Diseases and Disorders, Volume 3, Viral, Bacterial and Fungal Infections. Edited by P.T.K. Woo and D.W. Bruno. CABI Publishing, Wallingford, Oxon, United Kingdom. pp. 599-659.

Fitzpatrick, M.S., Schreck, C.B., and Chitwood, R.L. 1995. Evaluation of three candidate fungicides for treatment of adult spring chinook salmon. Prog. Fish-Cul. 57: 153-155.

Hatai, K., and Hoshiai, G-I. 1994. Pathogenicity of Saprolegnia parasitica coker. In Salmon Saprolegniasis. Edited by G. J. Mueller. U.S. Department of Energy, Bonneville Power Administration, Portland, Oregon. pp. 87-98.

Howe, G.E., Gingerich, W.H., Dawson, V.K., and Olson, J.J. 1999. Efficacy of hydrogen peroxide for treating Saprolegniasis in channel catfish. J. Aquat. Anim. Health, 11(3): 222-230.

Hughes, G.C. 1994. Saprolegniasis, then and now: A retrospective. In Salmon Saprolegniasis. Edited by G. J. Mueller. U.S. Department of Energy, Bonneville Power Administration, Portland, Oregon. pp. 3-32.

Marking, L.L., Rach, J.J., and Schreier, T.M. 1994. Evaluation of antifungal agents for fish culture. Prog. Fish-Cul. 56(4): 225-231.

Meyer, F.P. 1991. Aquaculture disease and health management. J. Anim. Sci. 69: 4201-4208.

Mitchell, A.J., and Collins, C.B. 1997. Review of the therapeutic uses of hydrogen peroxide in fish production. Aquacul. Mag. 23(3): 74-79.

Mueller, G.J, and Whisler, H.C. 1994. Fungal parasites of salmon from the Columbia River watershed. In Salmon Saprolegniasis. Edited by G. J. Mueller. U.S. Department of Energy, Bonneville Power Administration, Portland, Oregon. pp. 163-187.

Murphy, T.M. 1981. The use of chemosterilants to lower the frequency of skin fungal infection amongst precocious male 1+ Atlantic salmon parr, Salmo salar L. J. Fish Diseases 4: 387-395.

Neish, G.A. 1977. Observations on saprolegniasis of adult sockeye salmon, Oncorhynchus nerka (Walbaum). J. Fish Biol. 10: 513-522.

Neish, G.A., and Hughes, G.C. 1980. Diseases of fishes, Book 6, Fungal Diseases of Fishes. T.W.F. Publications, Neptune, New Jersey. 159 p.

Noga, E.J. 1996. Fish Disease Diagnosis and Treatment. Mosby-Year Book, Inc. St. Louis, MO. 367 p.

Peterson, A., Jegstrup, and Olson, L.W. 1994. Screening for bacteria antagonistic to Saprolegnia parasitica with BASF Pluronic Polyol F-127. Edited by G. J. Mueller. U.S. Department of Energy, Bonneville Power Administration, Portland, Oregon. pp. 149-160.

Pickering, A.D. 1994. Factors which predispose salmonid fish to Saprolegniasis. Edited by G. J. Mueller. U.S. Department of Energy, Bonneville Power Administration, Portland, Oregon. pp. 67-84.

Pickering, A.D., and Willoughby, L.G. 1982. In Microbial Diseases of Fish. Edited by R.J. Roberts. Academic Press, London, England. pp. 271-297.

Pottinger, T.G., and Pickering, A.D. 1992. The influence of social interaction on the acclimation of rainbow trout, Oncorhynchus mykiss (Walbaum) to chronic stress. J. Fish Biol. 41: 435-447.

Rach, J.J., Schreier, T.M., Howe, G.E., and Redman, S.D. 1997. Effect of species, life stage, and water temperature on the toxicity of hydrogen peroxide to fish. Prog. Fish-Cul. 59: 41-46.

Richards, R. H., and Pickering, A. D. 1978. Saprolegnia infections of salmonid fish.

Roberts, R.J. 1989. Fish Pathology, second edition. Bailliere Tindall Publishers, London, England. 467 p.

Seymour, R.L. 1970. The Genus Saprolegnia. Nova Hedwigia 19: 1-124.

Snieszko, S.F. 1974. The effects of environmental stress on outbreaks of infectious diseases of fishes. J. Fish Biol. 6: 197-208.

Van Waters and Rogers, Inc. 1988. Material safety data sheet. Van Waters and Rogers, Inc. Seattle, WA.

Whisler, H.C. 1996. Identification of Saprolegnia spp. Pathogenic in Chinook Salmon. Final Report, DE-AC79-90BP02836, US Department of Energy, Washington, D.C., 43 p.

Willoughby, L.G. 1985. Rapid preliminary screening of Saprolegnia on fish. J. Fish Diseases 8: 473-476.

Willoughby, L.G. 1986. An ecological study of water at the medium for growth and reproduction of the Saprolegnia from salmonid fish. Trans. Br. Mycol. Soc. 87(4): 493-502.

Willoughby, L.G. 1989. Continued defense of salmonid fish against Saprolegnia fungus, after its establishment. J. Fish. Diseases, 12: 63-67.

Willoughby, L.G. 1994. Fungi and Fish Diseases. Pisces Press, Stirling, Scotland. 57 p.

Willoughby, L.G, and Pickering, A.D. 1977. Viable Saprolegniaceae spores on the epidermis of the salmonid fish Salmo trutta and Salvelinus alpinus. Trans. Brit. Mycol. Soc. 68: 91-95.

Willoughby, L.G., and Roberts, R.J. 1992. Towards strategic use of fungicides against Saprolegnia parasitica in salmonid fish hatcheries. J. Fish Diseases 15: 1-13.


Background artwork courtesy of the Northwest Power Planning Council, Portland, Oregon.

This web page last updated 6/1/00.

Tidak ada komentar: